Mari Sukseskan MTQ Sulawesi Selatan XXVI 5 s/d 10 Mei 2010 Di Kota Palopo
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 April 2010

Asa dan Cita – Cita untuk Generasi Qur’ani.

Oleh : Muhammad Afif Hamka, S.Ip, M.Si

Tersebutlah kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an sebuah event bergengsi dua tahunan yang diselenggarakan oleh setiap daerah yang akan berujung pada kompetisi tingkat nasional dan menghasilkan kader – kader handal di bidang bacaan, hafalan, pengetahuan dan seni Al Qur’an. Begitu bergengsinya sampai pada tahapan seleksi tingkat Provinsi dapat menelan biaya yang cukup besar. Mulai dari pra pelaksanaan hingga penetapan hasil dan mempertandinkan hasilnya di tingkat yang lebih tinggi lagi.

Provinsi Sulawesi Selatan tentu tak melewatkan penyelenggaraan moment yang sangat berharga ini, akhirnya ditunjuklah Kota Palopo sebagai tempat pelaksaan. Dan gayung pun bersambut, Kota yang menempatkan Dimensi Religi sebagai Dimensi pertama dalam pembangunannya sangat menyambut positif hal ini. Dilaksanakanlah berbagai kegiatan untuk menyukseskan pelaksanaan MTQ ini mulai dari persiapan awal, berbagai pertemuan, koordinasi, hingga pembangunan panggung, latihan, rapat pemantapan dan keterlibatan semua elemen. Demikianlah, begitu sangat diharapaknnya pelaksaan MTQ Provinsi Sulawesi selatan Ini sukses dalam Penyelenggaraan, dan tentunya Palopo sebagai tuan rumah akan mendulang poinst suskes pula di mata pemerintah Provinsi.

Namun dibalik itu semua, penulis tak hendak membahas detail persiapan hingga apa dan bagaimana menyukseskan MTQ Sulawesi Selatan ini. Karena jika dilihat dari proses hingga hasil sementara dari aspek kesiapan dan partisipasi stakeholder dapat mencerminkan keberhasilan (Insya Alah . Penulis hanya ingin memberikan catatan kecil tentang harapan dari pelaksanaan MTQ Sulawesi Selatan ke – 26 yang dilaksanakan di Kota Palopo. Efek apa yang seharusnya tercipta dan diharapkan mewujud pasca pelaksanaan nantinya.

Ada dua sudut pandang yang menarik perhatian, bahwa sudut pandang pertama yakni ketika pemerintah provinsi , maupun kabupaten / kota (mungkin) memandang bahwa pelaksanaan MTQ diharapkan menghasilkan kader – kader yang handal dan dapat mewakili daerahnya sebagai pemenang kemudian mewakili lagi ke event yang tarafnya lebih tinggi. Prestasi dan prestise adalah capaian yang sangat diharapkan disini. Sehingga pemerintah tak sungkan – sungkan berkorban untuk capaian ini semua. Lain pula halnya dengan daerah yang menjadi tuan rumah, beban ( mungkin ) terasa lebih berat karena disamping harus suskes menyelenggarakan, juga harus sukses dalam capaian prestasi. Selain itu “decak kagum “ masyarakat sangat diharapkan sebagai simbol atas capaian – capaian tadi. Setidaknya “ decak kagum “ adalah partisipasi terkecil warga yang belum sempat berpartispasi pada penyediaan fasilitas dan partisipasi lainnya yang diminta oleh pelaksana.

Sudut pandang berikutnya adalah ketika seluruh event ini usai. Apa yang seharusnya terjadi. Ibn Hazam dalam tulisannya, Scope of Logic (Cakupan Logika) menekankan indera persepsi sebagai sumber pengetahuan. Lebih lanjut Ibnu Taimiyyah dalam tulisannya “ Penguraian Ilmu Mantik “ menunjukkan bahwa induksi adalah satu – satunya bentuk dari dalil yang dipercaya. Jadi,membangkitkan metode pengamatan dan eksperimen bukan semata – mata teoretis. Teori tersebut diharapkan menjadi spirit akan sudut pandang ini. Masyarakat yang berpartisipasi, tidak hanya merasa gugur tugasnya dengan membantu pemerintah menyiapkan fasilitas lomba dan pemondokan kafilah, Siswa siswi, remaja, dan pemuda yang berpartisipasi pada acara dan ritus pelengkap / pemanis tampilan MTQ tak hanya berhenti pada kalimat “ Bangga telah mengambil peran “ atau elemen pemerintah telah merasa cukup dengan sukses melaksanakan dan sukses mendulang prestasi pada event ini, namun dibalik itu semua dari event ini mereka harus memetik makna yang tersirat dibaliknya.

Rentetan makna yang harus di bumikan pada pelaksanaan event ini adalah tanggung jawab kita semua. Bukan hanya pada kebanggaan atas megahnya acara dan suksesnya pelaksanaan, tetapi adalah kewajiban kita menyampaikan pesan kepada generasi agar menjadikan Al Quran sebagai pedoman yang tak diragukan dan tak terbantahkan. Karena Al Qur’an adalah kitab yang tak ada keraguan lagi di dalamnya ( Q.S. Al Baqarah ayat 2 ). Kemegahan dan kesuksesan adalah hantaran kata pembuka untuk menyampaikan spirit Qurani kepada generasi kita.

Al Qur’an adalah pedoman hidup untuk semua konteks hidup dan kehidupan, event Musabaqah Tilawatil Qur’an harus menjadi starting point untuk generasi kita mengenal hakikat Al Qur’an bukan sekadar kitab dan bacaan wajib belaka, namun sebagai spirit menjalani hidup, menjadi insan yang hidup di muka bumi secara damai dengan sesama. Tak ada pertikaian dan membudayakan silaturrahmi. Menerjemahkan Qur’an dengan seni dan membudayakan seni yang bernafas Qur’ani. Dan semuanya berujung pada menjadikan Al Qur’an sebagai ruh dalam semua aktifitas hidup dan kehidupan. Inilah asa dan cita – cita yang harus diinternalisasikan untuk generasi selanjutnya

Demikianlah celoteh singkat anak zaman, yang merindukan Spirit Qur’ani di semua lini kehidupan. Berbanggalah menjadi bagian dari pelaksanaan MTQ Sulawesi Selatan ke – 26 ini, dan lebih berbangalah ketika makna terdalam dari semua ini kita dapat temukan dan menjadikannya ruh dalam ziarah hidup kita dan generasi kita kelak.

Zaman tak pernah menuntut apapun kecuali karya nyata, sekecil apapun kita.. Setakberdaya pun kita, beban ini sudah terlanjur di pundak. Menyukseskannya adalah kewajiban. Warnai zaman ini dengan peran, agar zaman tersenyum dan menorehkan namamu dengan tinta emas dalam setiap lembar sejarah. Bahwa kita telah bersama membumikan Al Quran dengan segala totalitas yang kita punya walau dengan peran yang berbeda. Moment ini merekatkan semua dalam bingkai ukhuwah sekarang dan nanti…

Wallahu alam Bis Shawab.


Penulis adalah PNS pada Pemerintah Kota Palopo, Penerima Beasiswa Luar Negeri dari Gubernur Sulawesi Selatan Program Ph.D Universitas Kebangsaan Malaysia
Selengkapnya...

Sabtu, 17 April 2010

Opini- MTQ dan Delegasi Bayaran

Oleh: Prof.DR. Paisal Halim.M.Hum

SEJARAH mencatat bahwa pada tahun 1981 Kabupaten Luwu pernah melaksanakan MTQ tingkat propinsi Sulawe­si Selatan. Pelaksanaan MTQ tersebut merupakan sejarah baru bagi Kabupaten Luwu karena pada masa itu kabupat­en ini telah mengubah opini publik bahwa hanya ibukota propinsi sajalah yang mampu melaksanakan MTQ tingkat propinsi. Opini publik ini gugur dengan sendirinya tatkala Men­teri Agama bersama rombongan mengacungkan jempol kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Luwu pada saat itu. Acungan jempol ini diberikan oleh Menteri Agama atas prestasi gemilang yang ditun­jukkan pada pembukaan MTQ tingkat propinsi tersebut.

Perlu diketahui bahwa pada awalnya, sejumlah pengamat di luar daerah banyak yang mera­gukan kemampuan daerah ini untuk melaksanakan event sekelas tingkat provinsi. Beta­pa tidak, dari segi geografis, le­tak Kabupaten Luwu sangat jauh dari Ibukota propinsi; pe­rumahan dan listrik kala itu tidak seindah sekarang; kesiapan sarana dan prasarana belum memadai bahkan sertifikasi menangani kegiatan besar semi­sal kegiatan tingkat propinsi belum dimiliki oleh Kabupaten Luwu kala itu. Apatab lagi keg­iatan MTQ tingkat propinsi baru pertama kali akan dilaku­kan di luar wilayah ibukota propinsi Sulawesi Selatan.

Namun berkat keuletan dan kegigihan Bapak Bupati Luwu dalam memberikan keyakinan kepada semua pihak akhirnya permohonan menjadi tuan rumah dapat diterima. Bupati Luwu pada saat itu adalah ba­pak Drs.B. Abdullah Suara. Dengan diterimanya permohonan menjadi tuan rumah maka seluruh komentar yang di­ragukan oleh para pengamat dari luar ditindaklanjuti dengan membangun segala sarana dan prasarana yang diperlukan demi suksesnya MTQ tersebut. Puncak pembangunan mer­cusuar yang dibangun pada tahun 1981 adalah stadion Laga­ligo dalam kurun waktu yang relatif singkat:

Di stadion itulah Bapak Men­teri Agama bersama rombon­gan dan para khalifah dari berb­agai kabupaten di propinsi Su­lawesi Selatan terpesona dan terkagum-kagum menyaksikan pelaksanaan pembukaan MTQ tingkat propinsi. Meskipun pembukaan kala itu diguyur dengan hujan lebat namun tidak mengurangi sedikitpun seman­gat panitia pelaksana bersama masyarakat menyuguhkan tari­an konfigurasi yang cantik dari putra-putri Luwu pada saat itu. Semua orang yang hadir pada malam tersebut terkagum­-kagum melihat indahnya ke­masan panggung kehormatan dan panggung tilawah serta panggung kafilah yang tertata manis dan rapih. Tautan warna dekorasi yang anggun; cara menyapa yang santun dari, pan­itia; sorotan lampu yang gemer­lap dan senyum ramah dari masyarakat di daerah ini.

Demikian suksesnya acara ini sehingga hanya satu kalimat ‘ yang keluar di bibir kafilah pada saat itu yakni “Luwu pantas jadi tuan rumah karena sejak dahulu Tana Luwu ini terkenal dengan julukan Wanua Map­patuo Naewai Alena . Mulai saat itulah (tahun 1981) model dan gaya pelaksanaan MTQ tingkat kabupaten mirip dengan model MTQ tingkat propinsi. Baik dari segi penataan pang­gung kehormatan, panggung tilawab dan sebagainya. Bahkan pemerintah bersama masyarakat di sebuah kecamatan yang menjadi tuan pelak­sanaan MTQ tingkat Kabupat­en merasa tidak puas apabila tidak mirip dengan pelaksanaan tingkat propinsi meskipun harus ditebus dengan dana yang mahal.

Yang lebih menarik lagi adalah meskipun disadari bahwa men­jadi tuan rumah dalam pelaksanaan MTQ tingkat Kabu­paten menelan biaya yang mahal namun setiap tahun lama­ran dari berbagai kecamatan untuk menjadi tuan rumah pel­aksanaan MTQ selalu saja antri bermohon pada LPTQ Kabupat­en. Bagi LPTQ Kabupaten, lama­ran tersebut tidak serta merta di­terima begitu saja. Setiap lama­ran yang masuk selalu dirapat­kan dalam rapat pleno lengkap dengan mempertimbangkan kon­disi dan potensi wilayah. Hal ini dilakukan karena menyadari bahwa event MTQ TK. Kabupaten merupakan syiar Islam sekaligus menjadi harga diri dan prestise bagi seluruh umat Islam. Hanya saja sangat disayangkan karena kita banyak tergiring pada ke­beranian meletakkan anggaran MTQ untuk keperluan penataan fisik semata. Sementara angga­ran pembinaan sumber daya manusia seperti qari’ dan qariah sangat minim.

Tampaknya kita lebih ber­bangga dengan kesuksesan menampilkan dekorasi yang indah sementara kita menafikkan pem­binaan SEW di daerah ini. Aki­batnya kita lebih memilih jalan pintas yakni menyewa delegasi dari berbagai Kabupaten hanya untuk sebuah prestasi dan pres­tise. Padahal pilihan tersebut sungguh memalukan dan memilukan bagi daerah seperti Kabu­paten Luwu yang mayoritas be­ragama Islam.

Patut dikemukakan bahwa selama MTQ berlangsung di Kabupaten Luwu dari tahun ketahun selalu berlangsung dengan sangat menakjubkan. Menakjubkan baik di lihat dari segi penataan lokasi kafilah, penataan panggung penataan tilawah dan panggung kehormatan, konfigurasi, tarian mas­sal pada saat pembukaan, pelican warna lampu, partisipasi masyarakat dalam bat penyia­pan akomodasi dan konsumsi, kepiawaian panitia menyambut dan menerima tamu, kesiapan barisan pengamanan mengam­ankan MTQ, bahkan sampai pada pilihan menyiapkan piala dan bonus bagi pemenang lomba dalam MTQ.

Itu sebabnya setiap orang yang menyaksikan pelaksanaan MTQ mulai dari pembukaan sampai penutupan selalu terperanjat akibat kesempurnaan pelaksanaannya. Hal ini dikemukakan oleh beber­apa undangan baik tamu dan berbagai kabupaten, tamu dari provinsi atau masyarakat kabu­paten Luwu yang berada di rantauan orang selalu memberikan jempol kepada panitia pelaksa­na. Acungan jempol ini di beri­kan karena sangat puas dan bangga melihat cara kerja pani­tia, pemerintah dan masyarakat kabupaten Luwu dalam menyukseskan MTQ sebagai salah satu media syiar Islam.

Dikatakan sebagai salah satu media syiar Islam karena pada event MTQ kita dapat menggir­ing generasi muda Islam mulai dari tingkat anak-anak, remaja dan dewasa dididik untuk mam­pu membaca Alquran dengan suara yang merdu, meresapi maknanya lewat syar’il Alqu­ran, menghapal qur’an mulai dari 1 juz sampai 30 juz bahkan sampai pada kaligafi. Dengan kegiatan seperti int, secara kon­septual dan faktual kita telah membina generasi muda Islam sebagai generasi qur’ani. Bu­kan itu saja bahkan kita telah melaksanakan syiar Islam se­cara terbuka kepada seluruh lapisan masyarakat banyak di wilayah tersebut.

MTQ telah berlalu, MTQ tetap di tutup. Pula seluruh kaf­ilah dari berbagai kecamatan telah kembali ke rumah masing­-masing dengan membawa seju­ta kesan tersendiri. Ada yang puas dan ada yang kecewa. Puas karena telah merebut piala be­serta bonusnya. Kecewa kare­na cita-cita untuk meraih juara masih tertunda. Sorak sorai pe­nonton terus bergemuruh, tepuk tangan, dan jabat tangan terus berlangsung. Baik kepada para pemenang maupun kepada dewan yuri. Pemberian ucapan selamat dan terima kasih terus berdatangan baik dari Bupati, Muspida. dan panitia kepada tuan rumah (Camat dan Masyarakatnya) bat itu diberi­kan karena benar-benar telah mempersembahkan yang terbaik atas berlangsungnya MTQ.

Namun demikian beberapa bal yang perlu direnungi ber­sama yang berkaitan dengan pelaksanaan MTQ ini yakni: merebut piala dalam MTQ meru­pakan suatu prestasi, kebang­gaan dan kehormatan dari se­mua delegasi. Tetapi perlu diin­gat bahwa piala tersebut bukanlah tujuan utama melainkan tujuan antara semata. Menghadirkan piala sebanyak-banyaknya dapat dilaksanakan den­gan berbagai cara. Namun seka­li lagi, piala bukanlah tujuan utama. MTQ dilakukan semata­ – mata untuk menggerakkan semua lapisan bawah agar masyarakat dan pemerintah da­pat membina generasi muda Is­lam sebagai generasi Qur’ ani di daerahnya. Dengan asumsi piki­ran bahwa bila bat ini terwujud maka akan terbangun generasi qurani di suatu wilayah yang pada akhirnya akan terban­gun masyarakat madani di wilayah tersebut.

Bila bat ini di sadari oleh se­mua pihak (pemerintah dan masyarakat) maka gaya menyewa peserta , gaya mem­bayar mahal; gaya “mengim­por”. Qori dan Qoriab dari ber­bagai kabupaten untuk meraih sebuah prestasi dan prestise sepatutnya tidak layak untuk dilakukan. Karena gaya terse­but sungguh tidak mendidik dan bahkan akan mematikan pembinaan generasi qur’ani di daerah tersebut. Patut diakui bahwa potret menyewa dele­gasi di setiap event MTQ selalu saja ada. Baik event MTQ tingkat Kabupaten, Provinsi, tingkat nasional maupun tingkat intemasional. Potret seperti ini sudah berlangsung lama bahkan sejak MTQ itu ada. Hanya saja sangat disayangkan karena tekad untuk merubah bat ini belum tampak. Baik dari pihak LPTQ, pemerintah, masyarakat maupun dari berb­agai tokoh agama.. Padahal gaya menyewa delegasi seperti ini merupakan paradigma lama yang tidak mendidik bahkan mematikan pembinaan generasi qur’ani secara tidak langsung.

Karena itu sudah sepatutnya pemerintah bersama panitia pel­aksana menghentikan gaya ini dengan membuat kriteria yang ketat dalam pelaksanaan MTQ. Karena gaya tersebut sungguh sangat memalukan dan memilu­kan bagi kita sebagai umat Is­lam. Gaya seperti ini justru mem­buka kartu betapa kurangnya perhatian pemerintah, masyarakat dan tokoh-tokoh agama dalam membina umat di daerah tersebut. Bahkan den­gan gaya menyewa Qori dan Qoriah dari berbagai daerah menunjukkan pula betapa mis­kinnya generasi Qur’ani di sebuah daerah penyewa itu. Lalu pertanyaan yang muncul, men­gapa gaya ini masih tetap ada? Jawabnya, sekali lagi karena pemerintah, masyarakat dan tokoh agama di daerah penyewa delegasi kurang me­miliki rasa kepedulian dan tang­gung jawab terhadap pemban­gunan masalah keagaamaan khususnya dalam pembinaan tulis baca Alquran.

Alangkah indahnya suatu daerah apabila pemerintah, tokoh agama, masyarakat dan pengurus LPTQ mau peduli dengan penyakit yang menim­pa ini. Apatab lagi bila mereka mau duduk bersama sekaligus mencanangkan tahun 2003 se­bagai tahun “peduli qur’an”. Dengan pencanangan tersebut, semua potensi wilayah akan bergerak mulai dari tingkat RT, RW, Desa, Kecamatan dan Kabupaten. Dengan gerakan tersebut, surau, Musallah, masjid dan Taman Pendidikan Alquran dengan sendirinya akan hidup. Bahkan guru men­gaji pun akan terhargai di mata masyarakat.

Bila bat ini dapat dilakukan dengan baik, Insya Allah pada pelaksanaan MTQ tahun 2004 setiap daerah dan kecamatan akan muncul dengan dari dan qariah-nya yang asli. Semoga saja pada tahun 2004, gaya menyewa gaya membayar mahal, gaya mengimpor qari’ dan qariah demi sebuah prestasi dan pre’stise tidak lagi dipertontonkan pada MTQ 2004. Karena sungguh sikap dan pe­rilaku tersebut tidak terpuji dan akan mematikan pembinaan generasi qur’ani di suatu wilayah. Karena itu penulis mengajak pada kita semua, un­tuk merapatkan harisan guna menjadikan tahun 2003 im se­bagai tahun “gerakan peduli Qur’an”. Sebab kalau bukan sekarang kapan lagi dan kalau bukan kita siapa lagi. Semoga saja demikian!
Selengkapnya...
Design by Capung Vs Arief 2010